Menyimak
Menyimak secara baik adalah lebih sulit daripada yang kita pikir
Menyimak sepertinya mudah dilakukan. Tetapi dalam realitas, kita pikir
kita menyimak, tetapi kita ternyata hanya mendengar apa yang mau kita
dengar! Hal ini bukan proses sadar: hal ini hampir alamiah. Untuk
menyimak dengan hati-hati dan secara kreatif, kita harus dapat memilih
aspek-aspek positif, masalah-masalah, kesulitan-kesulitan dan
menangkap ketegangan-ketegangan yang terjadi. Ini adalah ketrampilan
paling mendasar untuk fasilitasi. Karenanya kita selayaknya mencoba
untuk memahami apa yang bisa menghambat tindakan menyimak.
Daftar di bawah ini disebut hambatan untuk menyimak yang mungkin
mengganggu tindakan menyimak yang sesuai dan suportif.
Memahaminya akan membantu untuk mengatasinya.
Hambatan menyimak
Menyimak hidup-mati
Kebiasaan menyimak yang tidak baik ini muncul dari
fakta bahwa kebanyakan orang berpikir sekitar 5 kali
lebih cepat dibanding rata-rata orang bisa bicara. Jadi
pendengar memiliki kira-kira 3-4 menit ‘waktu berpikir
tersisa’ untuk tiap menit kegiatan menyimak. Kadang
mereka menggunakan waktu ekstra ini untuk berpikir tentang hal-hal
pribadinya dari pada untuk menyimak dan merumuskan apa yang harus
pembicara katakan. Hal ini bisa diatasi dengan memperhatikan ucapan,
bahasa tubuh seperti gestur, keraguan dll.
Menyimak Bendera Merah
Untuk beberapa orang, kata-kata tertentu bisa
bermakna bendera merah bagi banteng. Ketika
mereka mendengarnya, mereka menjadi marah
dan menghentikan tindakan menyimak. Istilah ini
mungkin ada dalam setiap kelompok peserta,
tetapi beberapa lebih universal seperti istilah suku
1 hand out
primitif, hitam, kapitalis, komunis dll. Beberapa kata-kata sangat
‘bermuatan’ sehingga pembicara langsung tidak didengar. Pendengar
kehilangan kontak dengannya dan gagal untuk mengembangkan
pemahaman terhadap orang tersebut.
Menyimak dengan kuping terbuka – pikiran tertutup
Kadang-kadang ‘pendengar’ memutuskan dengan
cepat bahwa baik subjek atau pembicara membosankan,
dan apa yang sedang dikatakan tidak masuk di akal. Sering
mereka mengambil kesimpulan bahwa mereka bisa
meramalkan apa yang diketahui pembicara atau apa
yang akan dikatakan; jadi mereka menyimpulkan
bahwa percuma menyimak karena mereka tidak akan mendengar
sesuatu yang baru jika mereka melakukannya.
Menyimak dengan melamun
Kadang-kadang ‘pendengar’ melihat orang
dengan tajam, dan kesannya sedang menyimak
meskipun pikiran mereka mungkin menuju
pada hal lain atau jauh di sana. Mereka
tenggelam di dalam kenyamanan pikiran
mereka sendiri. Mata Mereka seakan-akan
melamun, dan sering muka mereka
menampilkan wajah sedang bermimpi atau
dengan pikiran yang kosong. Jika kita perhatikan banyak peserta terlihat
dengan mata melamun dalam sesi, kita harus menemukan saat yang
tepat untuk berisitirahat atau merubah irama.
Menyimak “materi-terlalu-berat”
Ketika menyimak ide-ide yang terlalu kompleks dan
rumit, kita sering terlalu memaksa diri untuk
mengikuti diskusi dan benar-benar berusaha untuk
memahaminya. Menyimak dan memahami apa yang
dikatakan orang, mungkin membuat kita
menemukan bahwa topik dan pembicaranya cukup
2 hand out
menarik. Apabila ada satu orang atau beberapa orang yang tidak
memahami, maka kelompok lain bisa diminta untuk menjelaskan atau
jika mungkin, dengan memberi contoh.
Menyimak Don’t-rock-the-boat
(jangan mengguncang sampan)
Orang tidak suka kalau ide-ide, prasangka, cara
pandang favorit mereka dirusak; banyak yang tidak
suka opini mereka ditentang. Jadi jika seorang
pembicara mengatakan sesuatu yang bertentangan
dengan apa yang mereka pikir atau percayai,
mereka mungkin secara tidak sadar berhenti
menyimak atau bahkan bersikap bertahan. Bahkan jika hal ini dilakukan
dengan sadar, maka lebih baik kita berusaha menyimak dan menemukan
pikiran pembicara, dengan tujuan mendapatkan sisi lain dari
permasalahan. Dengan demikian kerja pemahaman dan tanggapan
secara konstruktif bisa dilakukan kemudian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar